Gender parenting

Usia 0 - 2 tahun

Pada usia ini anak harus dekat dengan bundanya. 

Pendidikan tauhid pertama adalah menyusui anak sampai 2 tahun.

Menyusui, bukan memberi asi.

Langsung disusui tanpa pumping dan tanpa disambi pegang hp.


Usia 3 - 6 tahun

Pada usia ini anak harus dekat dengan kedua orang tuanya.

Dekat dengan bundanya, juga dekat dengan ayahnya.

Perbanyak aktivitas bersama.


Usia 7 - 10 tahun

Pada usia ini dekatkan anak sesuai gendernya.

Jika anak laki2, maka dekatkan dengan ayahnya.

Ajak anak beraktifitas yg menonjolkan sisi ke- maskulin-annya.

Nyuci motor, akrab dg alat2 pertukangan, dsb.

Jika anak perempuan, maka dekatkan dengan bundanya.

Libatkan anak dalam aktifitas yg menonjolkan ke- feminin-annya.

Stop katering dan banyak utak atik di dapur bersama anak, 

melibatkan saat bersih2 rumah, menjahit dsb.


Usia 11 - 14 tahun

Usia ini sudah masuk tahap pre aqil baligh akhir

dan pada usia ini mulailah switch/menukar kedekatan.

Lintas gender.

Jika anak laki2, maka dekatkan pada bundanya.

Jika anak perempuan, maka dekatkan pada ayahnya.

Ada sebuah riset yg menunjukkan jika seorang anak perempuan 

tidak dekat dengan ayahnya pada fase ini maka data menunjukkan 

anak tsb 6x lebih rentan akan ditiduri oleh laki2 lain.

Di sebuah artikel parenting, dulu saya juga menemukan hal senada.

Jika tdk dekat dg ayahnya, maka anak perempuan akan mudah terpikat

dengan laki2 yg menawarkan perhatian dan cinta meski hanya untuk

kepuasan dan mengambil keuntungan semata.

Logis juga sih.

Saat ada laki2 yg memuji kecantikannya, mungkin ananda gak gampang

silau krn ada ayahnya yg lebih sering memujinya.

Kalau ada laki2 yg memberikan hadiah, ananda tak akan gampang 

klepek2 krn ada ayahnya yg lbh dulu mencurahkan 

perhatian dan memberi hadiah.

Pada fase ini jika anak perempuan harus dekat dg ayahnya

maka sebaliknya, anak laki2 harus dekat dengan bundanya.

Efek yg sangat mungkin muncul jika tahap ini terlewat, maka anak laki2

 punya potensi lebih besar untuk jadi suami yg kasar, playboy, dan tidak

memahami perempuan.


Jikalau ortunya bercerai atau IDR bagaimana?

Hadirkan sosok lain sesuai gender yg dibutuhkan.

Misal saat ia tak punya ayah, maka cari laki2 lain yg bs 

menjadi sosok ayah pengganti.

Bisa kakek, atau paman. Sama dengan rasulullah.

Meskipun tak punya ayah dan ibu, tapi rasulullah tak pernah 

kehilangan sosok ayah dan ibu.

Ada kakek dan pamannya. Ada nenek, bibi dan ibu susunya.


Fase berikutnya setelah 14 thn bagaimana? 

Sudah,tuntas. Krn jumhur ulama sepakat usia 15 thn adalah usia aqil baligh

Artinya anak kita sudah "bukan" anak kita lagi.

la telah menjelma menjadi orang lain yg sepadan dengan kita.

Maka fokus dan bersabarlah mendampingi anak2,

karna kita hanya punya waktu 14thn saja.

Saling mengingatkan, saling menguatkan, saling mendoakan ya teman2.

Moga allah mampukan dan bisa mempertanggung jawabkan 

amanah ini kelak di hari penghitungan..

Selamat berkumpul dan merajut cinta bersama keluarga.

Apapun keadaannya, jangan lupa bersyukur dan bahagia.


Komentar

Postingan Populer